KONEK News – Penunjukan warga negara Australia, Luke Thomas Mahony, sebagai pemimpin PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) memicu kontroversi di tengah masyarakat. DSI merupakan badan baru pada era pemerintahan Prabowo Subianto yang bertugas mengelola ekspor komoditas strategis Indonesia seperti nikel, batu bara, timah, bauksit, dan sawit. Keputusan ini dikonfirmasi oleh Rosan Roeslani meskipun struktur lengkap manajemen belum diumumkan secara resmi.
Luke Mahony diketahui memiliki pengalaman panjang di industri pertambangan internasional. Ia pernah bekerja di perusahaan besar seperti BHP Billiton dan Xstrata Coal, serta sempat menjabat di PT Vale Indonesia Tbk sebelum bergabung dengan Danantara pada tahun 2025. Pemerintah menilai penunjukan tersebut didasarkan pada kompetensi dan pengalaman profesional yang dimilikinya.
Namun, banyak pihak menilai keputusan itu berisiko karena sektor pengelolaan sumber daya alam dianggap sangat strategis bagi kepentingan ekonomi dan geopolitik nasional. Penempatan warga negara asing di posisi penting dinilai dapat menimbulkan konflik kepentingan dan memperbesar ketergantungan terhadap pihak luar, terutama di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Selain itu, penunjukan ini juga memunculkan pertanyaan mengenai kualitas pengembangan sumber daya manusia Indonesia. Setelah lama membahas bonus demografi dan hilirisasi industri, masyarakat mempertanyakan mengapa posisi penting dalam pengelolaan kekayaan alam masih dipercayakan kepada tenaga asing. Kritik pun ramai muncul di media sosial karena dianggap tidak sejalan dengan semangat nasionalisme ekonomi yang selama ini digaungkan pemerintah.
Kini publik menunggu pembuktian apakah DSI mampu meningkatkan devisa negara dan memberikan nilai tambah bagi Indonesia, atau justru menjadi simbol melemahnya kendali bangsa terhadap sumber daya alamnya sendiri.

Leave a Reply