KONEK News – Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS) disebut secara pribadi mendesak Presiden AS Donald Trump agar tidak menghentikan tekanan militer terhadap Iran. Menurut laporan The New York Times, MBS melihat konflik yang sedang berlangsung sebagai “peluang bersejarah” untuk mengubah peta geopolitik Timur Tengah dan melemahkan kekuasaan kelompok garis keras di Teheran. Ia bahkan mendorong langkah yang lebih tegas, termasuk serangan terhadap infrastruktur energi Iran, meski secara publik Saudi mendukung diplomasi dan gencatan senjata.
Secara resmi Arab Saudi tidak terlibat langsung dalam perang, tetapi memberikan dukungan diplomatik bagi AS dan Israel. Riyadh juga mengoptimalkan jalur pipa East-West Pipeline (Petroline) dengan kapasitas maksimal 7 juta barel per hari untuk mengalihkan ekspor minyak dari Selat Hormuz ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Ekspor melalui jalur ini kini mencapai sekitar 5 juta barel minyak mentah per hari, ditambah hampir 1 juta barel produk olahan.
Di tengah maraknya informasi tidak akurat di media sosial, tidak ada bukti bahwa Saudi menawarkan paket insentif besar senilai $1,6 triliun untuk memperpanjang perang, termasuk dana $100 miliar atau investasi $1 triliun ke AS. Begitu pula klaim tentang pipa minyak langsung menuju Israel belum terbukti; yang ada hanyalah pembahasan jangka panjang mengenai koridor energi alternatif untuk menghindari Hormuz, sementara fokus Saudi tetap pada Petroline ke Yanbu.
Desakan MBS muncul saat gencatan senjata dua minggu antara AS, Israel, dan Iran yang masih sangat rapuh. Trump bahkan mengancam blokade angkatan laut di Selat Hormuz jika Iran tidak membuka jalur pelayaran secara penuh. Dalam situasi ini, posisi Saudi mencerminkan kekhawatiran negara-negara Teluk terhadap pengaruh Iran, meskipun Riyadh tetap menegaskan pentingnya stabilitas kawasan dan pencegahan eskalasi yang dapat merugikan ekonomi global.

Leave a Reply