KONEK News – Tulisan ini menyoroti dilema yang dihadapi PDI-P sebagai partai nasionalis ideologis ketika narasi anti-Barat mendorong simpati terhadap Iran. Dalam narasi tersebut, Iran kerap diposisikan sebagai simbol perlawanan terhadap hegemoni Barat, sementara kompleksitas internalnya termasuk sistem politik yang terpusat pada otoritas religius dan pembatasan kebebasan sipil sering diabaikan.
Fenomena ini menciptakan paradoks: semangat anti-imperialisme yang kuat dalam identitas politik Indonesia justru berpotensi mengaburkan penilaian moral. Iran dijadikan simbol perjuangan kedaulatan, tetapi tanpa evaluasi kritis terhadap praktik represi di dalam negeri, seperti pembatasan oposisi politik dan pelanggaran kebebasan beragama, termasuk terhadap komunitas Kristen.
Akibatnya, muncul risiko inkonsistensi moral. Ketika pelanggaran hak asasi manusia dinilai secara selektif, prinsip keadilan menjadi lemah. Nasionalisme yang seharusnya menjunjung kedaulatan rakyat dan pluralisme bisa tergelincir menjadi romantisme terhadap perlawanan, tanpa mempertimbangkan nilai moral yang mendasarinya.
Dalam konteks Indonesia, hal ini bertentangan dengan prinsip Pancasila yang menolak penyatuan kekuasaan absolut berbasis agama. Oleh karena itu, tantangan bagi PDI-P adalah menjaga konsistensi ideologisnya: tidak hanya menolak dominasi asing, tetapi juga tetap kritis dan objektif dalam menilai setiap sistem kekuasaan. Tanpa itu, narasi politik berisiko berubah menjadi ilusi yang dapat berujung pada kesalahan strategis.

Leave a Reply