MBG: Program Populis yang Tidak Sensitif terhadap Kecerdasan Bangsa

KONEK News – Struktur pendidikan Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk masih berpendidikan rendah. Data BPS 2023 mencatat hampir 150 juta orang tidak sekolah, tidak tamat SD, atau hanya tamat SD, sementara jumlah lulusan pendidikan tinggi jauh lebih kecil. Kondisi ini membuat basis pemilih Indonesia didominasi kelompok dengan literasi pendidikan terbatas, sehingga kebijakan yang memberi manfaat langsung seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) mudah menjadi instrumen mobilisasi dukungan politik.

Di sisi lain, kebijakan publik idealnya tidak hanya mengikuti popularitas, tetapi mempertimbangkan rasionalitas fiskal dan efektivitas jangka panjang. Program MBG diperkirakan menghabiskan Rp400–450 triliun per tahun, sehingga menimbulkan pertanyaan apakah anggaran sebesar itu adalah penggunaan sumber daya negara yang paling strategis. Jika tujuannya membangun kualitas sumber daya manusia, indikator internasional justru menunjukkan tantangan terbesar Indonesia adalah kualitas pendidikan, bukan sekadar akses.

Hasil PISA 2022 menunjukkan kemampuan literasi, matematika, dan sains siswa Indonesia tertinggal jauh dari rata-rata OECD. Bank Dunia juga mencatat bahwa 51 persen anak usia 10 tahun tidak mampu memahami teks sederhana, menandakan learning poverty yang serius. Sementara masalah gizi seperti stunting memang penting, penelitian menegaskan bahwa intervensi paling efektif terjadi pada 1000 hari pertama kehidupan, bukan pada usia sekolah.

Pengalaman negara yang berhasil melakukan transformasi ekonomi seperti Korea Selatan dan Singapura menunjukkan bahwa investasi besar pada pendidikan, guru, serta sains dan teknologi harus menjadi prioritas sebelum memperluas program konsumsi. Dalam perspektif ini, program MBG lebih bersifat redistributif daripada membangun kapasitas manusia, dan membawa risiko inefisiensi serta politisasi.

Pada akhirnya, Indonesia berada di persimpangan penting: apakah ratusan triliun rupiah diarahkan untuk memperkuat fondasi intelektual melalui reformasi pendidikan, atau untuk program konsumsi besar yang populer tetapi kurang transformasional. Dalam jangka panjang, masa depan bangsa lebih ditentukan oleh kualitas kecerdasan warganya daripada seberapa banyak makanan yang dibagikan negara.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *